Puisi Terbaik Versi Pak Mulyadi

Kau mungkin berpikir bahwa sulit membuatku bersedih. Ingatmu, saat aku kehilangan dompetku aku malah berdoa supaya uang didalamnya dipergunakan untuk kebaikan dan sesaat yang lalu saat aku kehilangan sepeda motorku, lagi-lagi dengan nada suara yang tenang aku merelakannya. Kau benci kata pasrah yang keluar dari mulutku, katamu aku terlampau santai dengan kehidupan. Kau sering memarahiku jika aku terluka ataupun tersesat, kau begitu mengkhawatirkanku jika hal-hal buruk terjadi padaku secara beruntun.

Dan aku pun hanya tertawa, seringkali aku menyeringai bahwa tak selamanya aku akan sesial ini. Aku kerap membayangkan diriku pada saat-saat yang bahagia, pernah ada dalam ingatanku Pak Mulyadi, guru Bahasa Indonesia sewaktu SMP memuji puisiku yang berjudul “Ibu”. Katanya puisiku benar-benar bagus meski sarat dengan kesedihan. Tak apalah, setidaknya saat aku sedih aku mampu membuat sesuatu yang indah bukan?

Aku dan Kesedihan berteman baik dan ada keyakinan dalam diriku bahwa sahabatku itu tak akan membuatku bersedih. Seringkali kami berdua menghabiskan malam di teras rumah, berdiskusi tentang cuaca namun lebih banyak tentang kehidupan. Suatu saat nanti berjanjilah padaku, kau akan menemui Kesedihan, ia gemar sekali bercerita tentang teman-temannya yang ia jumpai sebelum mengenalku. Mengenal Kesedihan tak akan membuatmu putus asa, ia akan mengenalkanmu pada temannya yang lain bernama Harapan.

Aku tak mengenal Harapan sebaik Kesedihan, kadang ia ada namun seringkali ia pergi. Ada perasaan aneh dalam diriku saat Harapan itu muncul, saat ia mulai berbicara sorot matanya yang teduh seolah mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja, keyakinan yang tiba-tiba saja muncul bahwa apapun keapesanku hari ini aku akan bahagia. Kau tersenyum dan bertanya padaku “Bagaimana jika aku tak ada, apakah kau bersedia sekali ini saja bersedih untukku?”

Aku terdiam. Aku pernah merasakan ribuan kehilangan, kehilangan kaos kaki, pulpen, lipstik, novel kesayangan dan buku-buku, tapi aku belum pernah kehilanganmu. Pernah sekali waktu itu kau meninggalkanku untuk sementara waktu, kehilangan yang paripurna dalam hidupku. Kehilangan yang membuatku berpikir bahwa tak ada sedih yang paling sedih selain kehilanganmu. Sejak saat itu aku berusaha memunculkanmu dalam puisi-puisiku, puisi terbaik versi Pak Mulyadi, puisi tentangmu.(*)

 

Advertisements

Inside Out – Kebahagiaan Itu Butuh Upaya

pixar

Jika kita perhatikan dari alur ceritanya, Inside Out merupakan sebuah film yang sederhana. Film ini bercerita tentang perkembangan Riley dari bayi hingga usia 11 tahun, perpindahannya ke rumah dan sekolah yang baru dan bagaimana cara ia beradaptasi. Namun film ini tidak sesederhana yang kita pikirkan,  Docter mengemasnya dengan sangat jitu;  ia menambahkan 5 karakter yang tak lain adalah emosi dasar yang telah dimiliki Riley sejak lahir : Joy (Kebahagiaan), Sadness (Kesedihan), Fear (Ketakutan), Disgust (Perasaan Jijik), dan Anger (Ketakutan). Tentu saja semuanya berperan penting dalam kehidupan Riley, seperti dengan adanya Fear membuat Riley lebih berhati-hati dan waspada dan Disgust yang membuat Riley mengenali makanan apa yang ia sukai dan tidak ia sukai. Riley tumbuh dalam keluarga yang harmonis sehingga meskipun semua emosi dasarnya bekerja dengan baik, Joy tetaplah mendominasi. Peran Joy sebagai pembuat kebahagiaan bagi Riley terlihat sangat jelas ketika ia berusaha melakukan segala sesuatu agar Riley tetap berpikiran positif bahkan Joy tak mengijinkan Sadness mendekat ke dalam pusat kendali emosi. Sebagai bukti kuat, Joy membuat beberapa pulau kepribadian dalam diri Riley yang berisikan kenangan-kenangan indah dalam kehidupan Riley. Joy ingin Riley selalu bahagia, namun adakah yang salahkah dengan sikap Joy?

Semua orang ingin merasa bahagia dan terus memelihara pemikiran positif mereka apapun yang terjadi. Esensi dari berpikir positif yang selama ini kita kenal adalah menghalau perasaan-perasaan negatif dari dalam pikiran kita. Namun ada hal yang seringkali kita abaikan bahwa tak selalu ingatan yang dibawa oleh Sadness akan bermuara ke hal-hal yang negatif. Kesedihan mempunyai caranya sendiri untuk menguatkan dan kesedihan tak boleh diabaikan karena ia memiliki peran penting dalam emosi setiap orang.  Suara dari kesedihan mungkin terdengar satir dan sarat dengan kekalahan, pembuat kebahagiaan- Joy dalam otak kita pasti akan mencari seribu cara agar kita tidak didominasi olehnya. Lalu kita mulai menampilkan ingatan yang menyenangkan dan mulai terbesit keinginan untuk mengulangi kembali kejadian dalam ingatan tersebut, hal itulah yang dinamakan motivasi diri. Motivasi bisa kita didapatkan dari mana saja, dari olahraga yang kita senangi, makanan favorit kita dan bahkan motivasi bisa kita dapatkan dari sebuah kesedihan.

Kesedihan disini bukan memaksudkan sebuah depresi, karena depresi itu sendiri merupakan akumulasi kesedihan yang menimbulkan stress berkepanjangan. Kesedihan identik dengan air mata, perasaan abstrak karena berbagai sebab, lalu bagaimana kesedihan dapat memotivasi kita? Ahli Biokimia, Dr William Fret di Ramsey Medical Center, Minneapolis mengungkapkan bahwa hormon stress dapat dikeluarkan hanya melalui air mata dan dengan mengeluarkan air mata emosional akan membantu kita memproduksi hormon endorfin yang seringkali disebut sebagai “hormon kebahagiaan”. Seperti Riley, kita pun mempunyai pusat kendali emosi kita sendiri. Kita yang mengendalikannya dan kita jugalah yang akan menuai manfaatnya. Jika kita membiarkan Fear, Anger dan Disgust betah berlama-lama dalam pikiran pastinya itu akan mengacaukan hidup kita, namun sebaliknya milikilah emosi yang seimbang. Tak ada salahnya menangis jika kita ingin menangis, membiarkan kesedihan hinggap sebentar lalu memotivasi diri kita dengan serangkaian hal positif setelahnya. Melalui kesedihan kita dapat mengenali arti dari sebuah keluarga, cinta dan persahabatan dan melalui kesedihan jugalah kita mengerti bahwa kebahagiaan adalah hal berharga yang harus kita upayakan.