Sehabis Petang

Semua terasa begitu singkat:

kita, usia dan percakapan

kau katakan sesuatu yang tak bisa kuingat;

bersedih untuk sesuatu yang tak bisa kucatat

 

Sehabis petang kau menjadi pengantar duka;

katamu “kesedihan sudah ada jadwalnya”

kau minta bahagia beranjak dari tidurnya;

mengemasi lalu memulangkannya

 

Seperti seorang asing diantara lampu-lampu kota;

Kita berdiri mendekap duka

yang sama.

 

 

Jakarta, 2017

Advertisements

Sebelum Dilupakan

Kaukah itu?

Yang menelan subuhku;

membunuh kantukku

yang mengeja letih;

mengoyak perih

yang bernyanyi teramat pagi;

mengelu-elukan sepi

yang mengagumi banyak senja;

mengundi keindahan mereka

yang terkadang menjadi puisi

tersisip lalu pergi

“Jangan lupakan aku” pintamu

Kaukah itu?

Yang pernah menjadi babak ingatan;

sebelum benar-benar

dilupakan.

 

Jakarta, 2017

Pada Labirin

8ff69125679f6f11f5dbc52e5ffa3597

Lalu begini, aku tak hendak membuatmu bingung sepagi ini. Hanya saja kita seperti bermain dalam sebuah labirin, berputar-putar pada arah yang mengarah pada ketiadaan. Seandainya kau tahu maksudku, dinding labirin ini begitu tinggi untuk kupanjat seorang diri dan bersamamu setapak demi setapak adalah pilihan yang kupunya. Aku menikmati setiap detik bersamamu, setiap langkah yang kita ambil bersama, dan terkadang meskipun salah, kita akan selalu tertawa. Puluhan putaran sudah, hingga kita mulai beretorika tentang perasaan yang kita sangsikan dan perbedaan yang tak pernah kita rencanakan.

Kemudian kita memilih berjalan berlawanan arah, kau ke kanan dan aku ke kiri. Labirin ini membuatku gila! Perjalanan yang harusnya tak ku keluhkan, sebuah pelajaran tentang mencari atau ditemukan. Entah siapa yang terlebih dahulu bertemu, kau pada mataku atau aku pada matamu. “Labirin ini terlalu sempit kurasa” kataku untuk mengatasi kecanggungan,  “Atau langkah kita yang terlalu lebar hingga kita kembali dipertemukan?” terdengar suara teduhmu mengawali percakapan. Mungkin saja, langkah kaki ini terlalu sukar kita sangkal, semua kembali pada irama yang semesta ajarkan : hidup bukan hanya tentang sebuah tujuan, tapi juga sebuah perjalanan (*)

Jatuh Cinta

Aku merasa begitu bodoh saat aku jatuh cinta. Begitu jugakah kamu? Ah, tapi dalam hal apapun kau selalu pintar mengontrol emosimu. Nada bicaramu tetap saja datar, tidak seriang intonasi suaraku. Seringkali aku lupa teori bahwa pria hidup dengan logika. Lalu apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini? Meletup-letup setiap kali bertemu denganmu.

Sebenarnya ini hanya pertemuan biasa, lalu aku sibuk membenahi garis bibirku karena goresan lipstick yang tidak pernah rapi, aku selalu khawatir tentang rambut, baju, sepatu,dan semuanya. Aku ingin terlihat cantik di depanmu, cukup hanya didepanmu saja. Tidakkah kau tau hal itu terkadang membuatku lelah? Bagaimana jika aku seorang berantakan yang ceroboh, masihkah ada pertemuan yang lain untukku?. Kembali aku bertanya-tanya, pertanyaan yang berputar di dalam batinku dan aku tak pernah menemukan jawabannya darimu.

Bahkan jatuh suka denganmu membuatku menjadi seorang aktris amatiran. Seringkali aku berpura-pura tertawa mendengar trend leluconmu dengan teman-temanmu. Aku hanya ingin tertawa bersamamu. Terkadang obrolan kita mulai membosankan, hening dengan gadget kita masing-masing atau terkadang obrolan kita seperti sebuah drama monolog, panjang lebar kau bercerita tanpa bertanya bagaimana denganku. Sepertinya, aku bukanlah hal menarik untuk kau tau.

Aku mulai mengeluhkan perasaan ini. Kenapa aku jatuh cinta padamu? Disaat aku tak mampu menjadi diriku saat bersamamu. Atau mungkin saja aku bisa menjadi gadis impianmu yang suka memakai rok dan berhenti berbicara bola. Aku mulai berbicara dengan semua topik yang kau pilihkan, hanya saja kau terlihat seperti ingin mendengar apa yang kau dengar. Jenak aku berpikir, begitukah cinta?

Aku memang begitu bodoh ketika aku jatuh cinta. Sangat buta untuk merasa bahwa kau sebenarnya memang tak pernah ada rasa. Lalu bagaimana dengan hari-hari kerasku kemarin? Lupakan saja..mungkin dengan cara ini si bodoh belajar bahwa jatuh cinta tak sebahagia yang dia kira.