Obrolan Sore : Life of An Introvert

         Talking-about-the-topics-young-people-want-to-discuss

        Pembahasan mengenai introvert dan extrovert selalu menarik minat saya. Seminggu yang lalu saya menghadiri meetup rutin Introverts Network Indonesia Community. Ini bukan kali pertama saya menghadiri acara komunitas tersebut, semua yang hadir pada acara ini mengaku seorang introvert dan pernah mengalami beberapa masalah dengan ke-introvert-an mereka. Masalah utama yang mereka hadapi adalah sulitnya mengimbangi keluwesan para extrovert dalam dunia kerja, berbicara di depan umum dan mempunyai jaringan pertemanan yang luas.

             Banyak orang mengenal istilah introvert, tapi tidak banyak yang mengerti seperti apakah Introvert itu sebenarnya. Banyak pandangan yang kurang tepat dan mengartikan introvert sebagai sebuah kepribadian yang menutup diri dari kehidupan luar, pemalu, pendiam dan bahkan dikatakan sebagai kuper! Nyatanya masih ada, beberapa orang tua yang menganggap introvert adalah suatu penyakit yang harus dijauhkan dari kepribadian anak, mereka memaksa anak mereka untuk menjadi seorang penampil yang hebat meskipun itu bertolak belakang dengan kepribadiannya yang asli.

                Tak ada yang salah menjadi seorang introvert, tak ada yang salah jika kita lebih nyaman menghabiskan waktu sendiri ketimbang dalam sebuah grup pertemanan yang tidak terlalu kita kenal,  tak ada yang salah jika kita tidak bisa menyampaikan ide kita secara lisan namun kita tetap bisa menuliskannya dan tak ada yang salah dengan diri kita saat kita tidak bisa menahan otak kita untuk berpikir tentang banyak hal. Keunikan introvert inilah yang pada akhirnya membawa kita mengambil pilihan-pilihan yang berbeda dalam kehidupan.

        Pandangan saya mulai berkembang ketika saya bertemu dengan mereka di komunitas ini, para introvert yang sukses pada bidangnya masing-masing. Yang satu seorang introvert yang menjadi Public Speaker ternama, yang lainnya Engineer, para trainer dan berbagai profesi lainnya. Meski kepribadian dasar mereka yang menutup diri tapi bukan berarti itu membatasi potensi mereka. Hal yang mereka yakini, bahwa semua hal dapat dipelajari dan tidak perlu menjadi orang lain supaya menjadi menarik. Dan beberapa orang terdekat saya yang juga introvert, mereka sangat menghargai sebuah hubungan dan mutu pertemanan di dalam circle mereka.

               Diskusi kembali hening. Tak ada yang bermain gadget, tak ada yang mendahului bicara. Mereka hanya tersenyum menunggu seseorang  dan lainnya bergantian menggulirkan topik yang baru. Saya merasa nyaman berada diantara mereka, menjadi pendengar yang baik untuk para introvert sangat menyenangkan karena mereka selalu mempunyai topik menarik untuk dibicarakan. Kemudian, saya hanya senyum-senyum, saya engga sendiri ternyata. (*)

Advertisements

Appreciate Those Around You

img_5338

***

“Sometimes life plays a joke. It let us dive to the deepest oceans and hike to the highest mountains only to find what beauty is. While, there is beauty in all around us and all we have to do is just trying to see and appreciate its presence..”

Once my friend said “Every day is just same routine but different shit” and those words ringing in my head. Frankly said, I’m terribly bored with my routine and nothing excites me. In the meantime, I used to rest my back against the chair before start to work while starring blankly out the window. And that’s when thoughts begin to stir, all the while being gradually reminded of how unhappy I am.

I take a deep breath and continue my life. Then, one year has passed and this is my second year here. I was thinking maybe there are cool things outside waiting for me and I am not supposed to be here. My mind flew away, I imagined myself break this routine. Yet it doesn’t help tho, I begin to complain and I could feel my intense negative thoughts gradually tune out my gratitude.

I took a week off to breath the fresh air. I wish the magical thing happens and I will be happy afterwards but in fact, there’s no such magical things. I decided to visit park near the city and spend my day to read a book that I just bought. Heat of the sun almost burn my skin but I’m still continuing read it. It’s been awhile I didn’t look closely at my surrounding: the sun- the air- family and friends. I was so messed up lately and I can’t see that they are the simple things which keep me alive. Eventually, I just realized that happiness isn’t always about great things outside, it’s something around me that I have to appreciate its presence everyday (*)

Killing Field : Perenungan Kembali Arti Sebuah Tragedi

Panasnya kota Phnom Penh, Kamboja tak memudarkan semangat kami untuk berkeliling  menggunakan transportasi utama di kota ini yaitu tuk-tuk. Sama seperti Siem Reap, kota sebelumnya yang kami kunjungi , mereka menawarkan 10 USD per orang untuk perjalanan menggunakan tuk-tuk seharian. Perjalanan menuju ladang pembantaian di Choeung Ek kurang lebih memakan waktu 40 menit, pemandangan disepanjang jalan begitu khas, anak-anak sekolah riuh memadati pinggiran jalan yang gersang dan masih terlihat orang asli Kamboja yang bersepeda sambil menggunakan caping sebagai pelindung kepalanya dari terik matahari.

“Keceriaan yang menghangatkan hati”

Sesampainya di Choeung Ek, kami disambut oleh seorang pria yang bergegas mengarahkan kami ke loket pembayaran. Sebelum tour keliling tempat ini dimulai, kami disuguhi dengan sebuah audio guide dan headset yang akan menemani kami dari satu titik ke titik peristiwa lainnya. Perjalanan kami mengenang tragedi berdarah ini pun dimulai, alunan musik dan narasi yang tersetel di rekaman ini seperti menyayat  hati. Tak ada candaan lagi yang terdengar diantara para wisatawan, semuanya tenggelam dalam perenungan.

Sejarah pembantaian ini bermula ketika Pol Pot, pemimpin dari rezim Komunis Khmer Merah menjanjikan kebebasan dari rezim  Lon Nol yang buruk dan korup pada tahun 1975. Hanya dalam beberapa hari saja setelah rezim Pol Pot memerintah, Phnom Penh menjadi kota mati. Kamboja berkabung ketika ada ribuan orang setiap harinya disiksa hingga mati. Dalam kurun waktu  4 tahun, rezim tersebut diperkirakan telah membantai sekitar 2 juta orang Kamboja terutama kaum intelektual dan para pedagang yang dikhawatirkan akan menghasut rakyat untuk perubahan. Selain Choeung Ek, terdapat juga ladang pembantaian lainnya yang tersebar di seluruh wilayah Kamboja namun Choeung Ek adalah ladang pembantaian paling terkenal.

“Sisa tulang belulang dan pakaian dari para korban”
“Ribuan tengkorak korban pembantaian di dalam sebuah estalase”

Ribuan tengkorak manusia tersimpan rapi dalam estalase kaca. Kuburan masal hingga bekas pakaian para korban menjadi saksi bisu bahwa disinilah kekejaman manusia pernah bersarang. Keadilan seperti hal yang tidak pernah terdengar ataupun dituntutkan. Melalui wisata sejarah ini kami belajar tentang kesedihan masa lalu bahwa dahulu pernah ada hak-hak hidup manusia yang terenggut oleh kekejaman rezim sebuah pemerintahan. Semoga kelak kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi dan semoga pemimpin di masa depan dapat menjadi yang seperti kami harapkan. Ya, kami berharap.

Rahasia Kebahagiaan

Your-Happiness

Seorang pemilik toko menyuruh anaknya pergi mencari rahasia kebahagiaan dari orang paling bijaksana di dunia. Anak itu melintasi padang pasir selama empat puluh hari, dan akhirnya tiba di sebuah kastil yang indah, jauh tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.

Namun ketika dia memasuki aula kastil itu, si anak muda bukannya menemukan orang bijak tersebut, melainkan kesibukan besar di dalamnya: para pedagang berlalu-lalang, orang-orang bercakap-cakap di sudut-sudut, ada orchestra kecil sedang memainkan musik lembut da nada meja yang penuh dengan piring-piring berisi makanan-makanan paling enak di belahan dunia tersebut. Si orang bijak berbicara dengan setiap orang dan anak muda itu harus menunggu selama dua jam. Setelah itu barulah tiba gilirannya.

Si orang bijak mendengarkan dengan saksama saat anak muda itu menjelaskan maksud kedatangannya, namun dia mengatakan sedang tidak punya waktu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak muda itu melihat-lihat sekeliling istana, dan kembali kesini dua jam lagi.

“Sementara itu, aku punya tugas untukmu” kata si orang bijak. Diberikannya pada si anak muda sendok teh berisi dua tetes minyak. Sambil kau berjalan-jalan bawa sendok ini, tapi jangan sampai minyaknya tumpah.

Anak muda itu pun mulai berkeliling-keliling naik turun sekian banyak tangga istana, sambil matanya tertuju pada sendok yang dibawanya. Setelah dua jam, dia kembali ke ruangan tempat orang bijak itu berada.

“Nah” kata si orang bijak, “Apakah kau melihat tapestri-tapestri Persia yang tergantung di ruang makanku? Bagaimana dengan taman hasil karya ahli taman yang menghabiskan sepuluh tahun untuk menciptakannya? Apa kau juga melihat perkamen-perkamen indah di perpustakaanku?”

Anak muda itu merasa malu. Dia mengakui bahwa dia tidak sempat melihat apa-apa. Dia terlalu terfokus pada usaha menjaga minyak di sendok itu supaya tidak tumpah.

“Kalau begitu pergilah lagi berjalan-jalan dan nikmatlah keindahan-keindahan istanaku” kata si orang bijak. “Tak mungkin kau bisa mempercayai seseorang, kalau kau tidak mengenal rumahnya”

Merasa lega, anak muda itu mengambil sendoknya dan kembali menjelajahi istana tersebut. Kali ini, ia mengamati semua karya seni di langit-langit dan tembok-tembok. Dia menikmati taman-taman, gunung-gunung di sekelilingnya, keindahan Bungan-bunga, serta cita rasa yang terpancar dari segala sesuatu disana. Ketika kembali menghadap orang bijak itu, diceritakannya dengan mendetail segala pemandangan yang telah dilihatnya.

“Tapi dimana tetes-tetes minyak yang kupercayakan padamu itu? Tanya si orang bijak

Si anak muda itu memandang sendok di tangannya dan menyadari dua tetes minyak itu sudah tidak ada.

“Nah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan untukmu,” kata orang paling bijak itu. “Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal yang menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu”

Dikutip dari buku Sang Alkemis, halaman 41-43

Apa Yang Membuat Saya Bahagia Hari Ini?

Simple-Happiness-Quote-1920x1080-hd-wallpaper

Motivasi itu seperti sarapan pagi, komposisinya pun sama -ringan namun menguatkan. Saya mulai membiasakan diri untuk menyantap setidaknya satu artikel yang aroma positifnya sanggup mengobarkan semangat saya untuk menjalani hari dengan sukacita. Ada saatnya headline koran yang setiap hari kita baca hanya menambah tumpukan kekhawatiran, berita pembunuhan, pembegalan, pemerkosaan . Itu semua memang terjadi di dunia tempat dimana kita tinggal, tetapi lingkup permasalahan sosial yang terlalu lebar terkadang menghantui lingkup kecil otak kita yang hanya ingin “berbahagia”. Seringkali saya bertanya pada diri saya sendiri “Apa yang akan membuat saya bahagia hari ini?”. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan deadline? Makan siang dengan menu istimewa? Banyak hal-hal kecil yang tanpa kita sadari membuat syaraf di otak kita berhenti tegang dan rileks.

Menyadari kemampuan otak kita yang tak terbatas membuat kita ingin melakukan banyak hal sesegera dan secepat mungkin. Bahkan saya memacu diri saya (yang sebenarnya memberikan tekanan ke otak) untuk mengikuti beberapa kursus sepulang kerja. Tekanan demi tekanan untuk mencapai sesuatu seringkali melupakan eksistensi saya di dalam lingkungan dimana saya tinggal. Saya mulai menarik diri dan terlihat acuh tak acuh kepada orang-orang disekitar saya.  Fokus saya saat itu hanya pencapaian saya, disitulah saya mulai menyadari keegoisan mulai menjalar di dalam pikiran saya. Saya sama sekali tidak bahagia dalam pencapaian saya setiap harinya karena semua syaraf di dalam otak saya tegang dan tidak sanggup berpikir secara jernih. Tidak memperhitungkan kelelahan yang saya dapati, saya hanya terus memaksakan otak saya memakan makanan keras tanpa sebuah motivasi dan meditasi.

Memiliki motivasi di dalam kehidupan secara seimbang, akan membawa kita ke dalam pencapaian keinginan-keinginan positif yang membangun. Motivasi menyeimbangkan pikiran dan emosi kita, seperti halnya sebuah meditasi, ketenangan dan pengetahuan tentang hal-hal baru akan meregenerasi hal-hal buruk di dalam diri kita yang perlu diperbaiki setiap harinya. Motivasi juga bergantung pada tujuan pribadi kita, bisa jadi kita mempunyai –motivasi untuk mendapatkan pekerjaan baru, motivasi untuk sukses dalam pendidikan, motivasi untuk hidup lebih baik, dan lainnya. Apapun itu, jangan pernah lupa untuk membuat daftar apa saja yang membuat saya bahagia hari ini. Buatlah daftar yang berbeda setiap harinya, tak terasa kita memiliki banyak hal untuk disyukuri dan alasan untuk selalu bahagia.

Di bawah ini saya juga ingin share beberapa blog/website yang memuat artikel-artikel positif. Semoga bermanfaat 🙂